{Donghae pov}
Tidak menyangka
aku jatuh cinta pada seorang gadis seperti dia. Salah, lebih tepatnya anak bos
ku sendiri, putri tunggal Kim Young Min. Taulah kalian siapa dia, CEO SM
Entertainment. Bodohnya aku. Babo-ya!!!!
Awalnya aku sama
sekali tidak mengenalnya. Hah, yang paling menyebalkan adalah member yang dicintainya
adalah Siwon, sahabatku sendiri dan cinta pertamanya. T.T maklumlah jika
dibandingkan Siwon aku tidak ada apa-apanya.
Mungkin
seperti ini gambaran dirinya.
Antara
berani mencintai atau tidak. Aku takut kim songsaenim melarang hubungan kami.
Siapa aku siapa dia. Tapi ternyata bukan kim songsaenim yang melarang. Tuhan
yang melarang kami. Tuhan menginginkan dia lebih dari yang aku menginginkan
dia. Primary
amerbic meningoencephalitis, infeksi syaraf yang membuat kami terpisah
sebelum sempat bersatu. Aku juga tidak sempat untuk sekedar menyatakan
perasaanku.
*************************************************************
Saat aku berjalan dalam malam yang temaram
Saat itu pula hatiku kembali tergetarkan
Bergetar dan terasa diusik oleh pengusik
Seperti hantu yang siap membunuhku
Saat itu pula hatiku kembali tergetarkan
Bergetar dan terasa diusik oleh pengusik
Seperti hantu yang siap membunuhku
Seperti gempa bumi yang dahsyat menggetarkan hatiku
Meretakkan, menghancurkan dan meluluhlantakkan keutuhan pikiran
Melemahkan otot-otot dan semua persendianku
Dan seperti tulang yang menghilang dari tubuhku
Meretakkan, menghancurkan dan meluluhlantakkan keutuhan pikiran
Melemahkan otot-otot dan semua persendianku
Dan seperti tulang yang menghilang dari tubuhku
Pemandangan itu sangat mengerikan
Berjuta-juta wanita putih bersayap memanggil namaku
Seperti malaikat yang siap mencabut nyawa dari ragaku
Dan pergi meninggalkan tubuh menjadi gentayangan
Berjuta-juta wanita putih bersayap memanggil namaku
Seperti malaikat yang siap mencabut nyawa dari ragaku
Dan pergi meninggalkan tubuh menjadi gentayangan
Kini matahari telah muncul di peraduannya
Dan ajal menantiku datang ke tempatnya
Memberikan nuansa yang seolah-olah berkata
tentukan sebuah pilihan
Dan menentukan jalan kehidupan
Yang baru untuk melupakan masa lalu.
Dan ajal menantiku datang ke tempatnya
Memberikan nuansa yang seolah-olah berkata
tentukan sebuah pilihan
Dan menentukan jalan kehidupan
Yang baru untuk melupakan masa lalu.
-Karya: Anggi Helvinorica-
*************************************************************
Pertama
kali aku melihat dunia ini, aku berharap bisa bahagia. Menjalani kehidupan
normal seperti yang di inginkan banyak orang. Mengisi semua kehidupan ini
dengan kenangan-kenangan manis. Menemukan pasangan sejati dan membentuk
keluarga kecil yang sejahtera. Tapi bagaimana jika suatu saat hobimu menjadi
malapetaka untukmu?dan bagaimana ketika kenyataan berkata kau akan selalu
sendiri? Dan bagaimana kalau kau punya banyak hal tapi tidak dengan waktu?dan
bagaimana jika kau punya segalanya kecuali kesempatan?
Namaku Sinetha Kim. Putri tunggal
CEO SM entertainment. Berbakat dan cerdas, begitu menurut dosen-dosenku. Kuliah
di virginia univercity. design faculty, fashion design department. Tinggi badan
170 cm, berat badan 48 kg. Bertubuh langsing, berkulit putih layaknya orang
korea, bermata bulat besar. Maklum ibuku seorang campuran. Tapi bagiku semua
kini hanya sebuah keindahan yang membawa duka.
Mungkin selama ini terlalu sombong
dengan apa yang aku miliki. Kenyataannya sekarng keduniawian ini tak berguna
lagi untukku. Aku bersyukur tuhan menganugerahkan antibody yang baik untukku.
Setidaknya aku mampu bertahan lebih lama dari yang diperkirakan. Aku menderita
PAM (Primary amerbic meningoencephalitis).
Setidaknya aku tidak mati seminggu setelah gejalanya muncul. Ini berawal ketika
hobiku berenang yang makin menjadi-jadi di virginia. Daerah itu termasuk sering
muncul penyakit ini. Kolam renang air hangat di kampus yang terinfeksi virus naegleri fowleri. Entah kapan aku akan
mengalami kelumpuhan dan koma. Beruntung yang hinggap di ragaku virus yang
lemah. Meski begitu aku tidak akan sembuh, kecuali tuhan memberikan
keajaibannya padaku.
Setelah itu aku memutuskan pulang ke korea. Ingin
menikmati sisa-sia waktu yang kumiliki bersama keluargaku. Meski kenyataannya aku
ingin mempunyai seseorang yang bisa melukis akhir kisah hidupku. Tapi aku tidak
boleh egois untuk itu. Hanya akan membuatnya terluka.
Oemma begitu syok tahu aku sakit dan
hidupku tak akan lama. Appa tidak mampu meneruskan kata-katanya. Mereka
menangis tersedu-sedu memelukku. Aku benci punya takdir seperti ini. Aku benci
melihat air mata mereka. Tidak sekalipun aku bisa membuat mereka bangga dengan
kehadiranku, justru aku makin menambah air mata mereka.
Bagaimana sekarang menurut kalian?
Apa yang harus aku lakukan menunggu kematian?
“Nona...Kita sudah sampai..” seru Jung
ajjushi, sopir Oemma
“Nde..Kamsa ajjushi...”
Aku pun melangkah kakiku turun dari mobil. Tidak
lupa aku mengenakan masker. Aku tidak ingin menulari orang-orang disekitarku,
dan aku juga tidak mau dikenali sebagai sinetha kim.
Baiklah saatnya memulai kehidupan denganm senyuman.
Kalian jangan menangis untukku. Tenang saja...aku akan baik-baik saja sampai
tiba waktunya untukku pergi. Aku pasti akan mengenang kebaikan kalian jika
kalian mau tersenyum untukku. Itu sudah jauh labih cukup untukku. Kajja...kita
kan nonton penampilan super junior di Mubank KBS. Ayolah tersenyum...
Aku sudah seperti teroris saja
mengendap-ngendap seperti ini.aku mau melihat mereka di belakang panggung saja
yang sepi. Kalian tahulah...aku takut menularkan penyakitku kalo aku dalam
keadaan kepanasan. Virus yang ada ditubuhkan akan cepat berkembang. Maka aku
butuh kehangatan. Bukan kepanasan atau kedinginan.
“Sine-ya...”
panggil seseorang. Spontan aku langsung berdiri kaku tanpa menoleh.
“Oh ayolah...Ini
aku...Kau tidak perlu tegang seperti itu.” Ucapnya dengan santainya
“Oppa...Sudah
ku katakan jangan panggil namaku keras-keras...Kau ingin semua orang tahu aku
sinetha kim????”
“Ahahahha...Memangnya
kenapa kalau mereka tahu? Baguskan...Kau tidak perlu menegndap-ngendap melihat
kami dari jauh seperti ini.”
“Oppa...Aku
takut semuanya akann menjauhi aku...Kau tahukan...Aku...”
“Jangan katakan
lagi...Baiklah aku tidak akan melakukannya lagi. Kau bawa apa?” tanyanya
melihatku membawa bingkisan.
“Gomawoyo...Aku
bawakan kue untuk kalian...Tapi bukan buatanku sendiri. Aku takut...”
“Sine-ya...Sudah
kukatakan jangan kau katakan lagi kata-kata aku takut menulari kalian, aku
takut...dan lain-lainnya. Aku tidak pernah takut kau tulari. Terima kasih
kuenya....”
“Choemanneyo
oppa...ehm...”
“Hadiah khusus?”
“Nde...Jangan
lupa berikan pada Siwon oppa..Jangan katakan dariku. Katakan saja dari fansnya.
Awas kalau kau tidak menyampaikannya.”
“Baiklah...Hadiah
untukku mana? Masa hanya Siwon saja yang kau berikan hadiah...kurir juga dapat
imbalannnya dong...heheheh” ucapnya menyodorkan pipinya
“Aku masih
ingin melihat oppa menari dan menyanyi di atas panggung, bukan menjadi temanku
di rumah sakit...”ucapku.
Spontan dia menunjukkan wajah kesalnya padaku
mendengar apa yang aku katakan. Apa bisa aku membuat seorang lee Donghae
mengalami hal yang sama denganku? Bagaimana aku bisa tega?
Tuhan itu adil memperkenalkan aku dengan Donghae
oppa. Meski dia memang benar-benar seorang playboy dan otak yadong, setidaknya
dia bisa menyimpan semua rahasiaku. Dan satu-satunya orang diluar keluargaku
yang tahu tentang penyakitku. Kenyataannya dia tidak pernah takut tertular
olehku. Tidak seperti teman-temanku di Virginia.
“Kau itu...Tidak
ingin berkenalan dan berbicara dengannya?”
“Ani...Begini
saja sudah bagus...Oppa...Hwaiting!!!”
“Nde...hwaiting!
Aku menunggumu menciumku...hahahhaha...Kau mau pulang?”
“Ani...Aku
ingin mengintip dia dulu baru aku pulang...”
“Dasar kau
itu...Bintitan lho ntar...hahahah”
”HONGEEEEEEEEEEEEE................”panggil
orang dari dalam. Aku tahu itu suara siapa. Ayo tebak? Yang suka teriak-teriak,
yang paling aneh...ahahhaha...siapa lagi kalau bukan KIM HEECHUL.
“Aish...dia
itu selalu menganggu waktu kita berduaan ya...”
Aku
injak kakinya
“Aww...kau
itu!!! Aish...Sudahlah...Cepat pulang sana... Hati-hati...da...Dongsaeng...Saranghaeyo ♥ ”
“Sudah sana
oppa masuk...Aku ingin melihat oppa memberikan kuenya...hehheh”
“Ah aigo...”
ucapnya sambil mengedipkan matanya genit.
Inilah yang bisa aku lakukan. melihatnya dari jauh. Dia
cinta pertamaku. Sejak dia masuk training sampai saat ini. Dan tidak sekalipun
akun ingin mendekatinya. Hanya saja saat aku ingin mempunyai sesuatu yang bisa
aku kenang.
Seperti biasanya, Donghae oppa akan membagikan semua
kuenya ke semua member, baru nanti menyodorkan bingkisan ke Siwon oppa. Dan Dongahe
oppa selalu mencari-cari siapa yang memberikan.
[DONGHAE
POV]
Aku melihatnya mengendap-ngendap
lagi. Kenapa tuhan memberikan cobaan seperti itu kepadanya? Aku mengenalnya
secara tidak sengaja ketika pertama kali masuk training. Dia memintaku
merahasiakan siapa dia sampai saat ini. Hatiku hancur ketika dia mendadak pergi
ke Virginia untuk sekolah. Mengakui atau tidak, kenyataannya aku jatuh cinta
padanya. Sekarang pun perasaanku masih sama. Meski kenyataannya Siwon justru
yang menjadi cinta pertamanya. Aku ingin menjadi cinta terakhirnya. Tapi
sepertinya semuanya tetap mustahil. Gadis 20 tahun yang membuatku terus
bermimpi.
Sejujurnya aku ingin merebut hatinya
saat dia pulang kembali ke korea. Tapi kenyataan berkata kau harus menahan
perasaan ini selamanya. Dia pulang dengan berita yang tidak pernah aku
bayangkan. Dia pulang bukan untukku. Dia pulang hanya sekedar ingin mengukir
kenangan tentang Siwon. Tidak salah memang. Wajar orang yang merasa berada
dibatas umurnya ingin melukis kenangan tentang orang yang dicintainya. Aku juga
ingin seperti itu. Sudah cukup bagiku melihatnya bahagia dan terus menjadi
temannya.
Saat dia menceritakan penyakitnya
padaku, aku justru yang menangis memeluknya. Dia sama sekali tidak menangis.
Dia tampak begitu tegar, meski aku yakin dia amat sangat rapuh. Wajahnya
semakin pucat dari hari ke hari.
“Untukmu
Won...”
“Nuguseoyo?”
“Seperti
biasa, fans setiamu yang sangat mencintaimu jauh sebelum kau debut.” Ucapku
sesak di dada.
“Bantu aku
bertemu dengannya..Aku mohon...Kau pasti tahu kan? Aku ingin mengenalnya”
“Hufh...Aku...Tidak
bisa. Aku sudah berjanji padanya.”
“Ayolah hyung...Kau
kan sahabatku...Masa kau tega membuatku penasaran seumur hidupku???”
“Aku sudah
janji kuda...Kau mau aku masuk neraka karena tidak memebihu janjiku???”
“Hahahhaha....Ikan...Sejak
kapan kau insyaf??? Baca yadong saja kau bisa....hahahha” seru Heechul hyung.
Astaga orang ini....Kenapa begitu menyebalkan???
“Pria tidak
akan mengingakri janjinya, hahahhaha...”ucapku melirik ke arah celah pintu. Dia
masih disana ternyata.
Sampai kapan dia kan tetap seperti itu
terus...samapi kapan aku akan melihat dirinya terus bermimpi. Tuhan tahu ini, Jangan hadirkan musim dingin...Aku tidak
ingin kehilangan dia. Biarkan tubuh ringkih yang tidak akan bertahan lama itu
tetap hidup melewati akhir tahun ini.
“Hyung kau
kenapa?”tanya Kyuhyun
“Ah
Tidak...”
“Ah hyung,
Kau orang yang tidak pandai berbohong!!! Akhir-akhir ini kau selalu sedih,
wajahmu sangat suram, Kenapa memangnya?”
“Ah...Hanya
pikiranmu Kyu...Aku baik-baik saja...Hanya sedikit merindukan ayah..”
“Hyung mungkin
aku ini memeng menyebalkan, tapi beri aku kesempatan menjadi dongsaeng yang
baik untyuk semuanya...Aku tidak kan memaksa lagi hyung...Jika kau membutuhkan
pundak, aku ada untukmu Hyung....”
“Wkwkwkwk...Kyu...kau...hahahahha”
mendadak aku tertawa mendengar kata-katanya yang sungguh lebay sekali...Seandainya
aku bisa tertawa seperti ini dengan sine...
*************************************************************
Hari ini...Seperti biasa...Aku melihat mereka...Melihat
Siwon oppa konser... Appa dengan hati malaikatnya menyediakan ruang kecil yang
sangat hangat untukku. Sudah pernah aku jelaskan belum? Bahwa seorang penderita
PAM tidak boleh kedinginan? Jadi kau harus selalu hangat karena itu yang bisa
memperlama masa inkubasi virusnya. Jadi kemungkinan besar aku akan berakhir
dimusim singin sebentar lagi...Aku tidak ingin pergi ke negara tropis untuk
memperpanjanng hidup... Percuma... Aku cepat atau lambat juga akan mati...yang
aku inginkan adalah mengukir kenangan yang indah sebelum ajal menjemput.
Bukankah itu wajar untuk semua ortang yang mendekati kematian?
Perbedaan hidup dan mati itu tipis. Dikematian juga
akan ada kehidupan yang lebih kekal daripada itu...kalian tahu selaput otak?
Setipis itu...ya...Hanya saja ketika waktu belum membuka pintunya kita tidak
akan bisa mengarungi dunia kematian.bersyukurlah kalian yang masih sempurna,
masih sehat... Seandainya ada kesempatan kedua untuk hidup normal aku ingin
sekali...
Sudah...Sudah...Jangan ungkit maslah kematian...Cepat
atau lambat aku akan menghampirinya. Ruangan ini ayah sediakan untukku untuk
melihat konser mereka. Aku tidak bisa dan tidak berani bersama banyak orang...Aku
tidak ingin menulari mereka. Sudah cukup bagiku ada layar besar diruangan ini
untuk melihat mereka.
Luar biasa memang...Mereka sungguh menawan...Siwon oppa...Apa
orang seperti dia mau bertemu dengan aku yang penyakitan ini? Huh...Sudah ah...Aku
pulang saja...
Mendadak aku merasa kedinginan...Kuraih remot
pemanas ruangan, kunaikkan suhunya...Nihil...Aku masih kedinginan...
Kaku...Kakiku menjadi kaku...Kuraih hp...Kuhubungi appa...
“Appa...”
“Wae? Ada
apa? Kau kenapa?”
“Kakiku...Argh...”
Kepalaku mendadak sakit luar biasa....
Tidak...Jangan sekarang....
*************************************************************
[KIM
YOUNG MIN POV]
Sinetha Kim...Anakku satu-satunya menelpon dan
berteriak ditelpon... Yang aku lakukan hanya berlari secepat mungkin menuju
ruangannya... Aku menemukannya pingsan dengan tubuh kaku...
Tuhan...Aku ini seorang ayah yang ingin
membahagiakan putrinya...
Tuhan...Tiap detik hidupku mungkin adalah kesalahan
yang fatal...
Jika nanti kau mengambil titipan yang kau berikan
padaku...Berikan sesuatu yang bisa membuatku sedikit kerelaan...
Kegenggam tangan sinetha...Perjalanan kerumah sakit
ini sungguh menyesakkan dadaku melihatnya mulai kaku...Baru 1 minggu sejak dia
pulang...Kenapa sesingkat ini...
Dokter memintaku menunggu diluar UGD. Tak terbayang
jika aku tidak punya kesempatan untuk melihatnya lagi...aku belum merasa
menjadi ayah yang berguna untuknya. Kuhubungi istriku. Aku juga tidak akan
sanggup melihat air matanya. Selama ini mungkin aku menjadi orang yang paling
ditakuti dan kejam. Ini...Aku...Dengan kelemahannya, bukan Kim Young Min seorang
CEO tapi Kim Young Min seorang ayah...
“Tuan
Kim...”panggil dokter
“Ya...”jawabku
lemah...
“Saya minta
maaf sebelumnya tuan....”
“Apa yang
terjadi padanya?”
“Kadar oksigen
pada otaknya tinggi. Protein dan glukosa pada cairan cerebrospinalnya juga
tinggi....InI menyebabkan virusnya tumbuh pesat. Mereka bermultiplikasi dan
menyerang parenkim otaknya dengan cepat. Karenanya muncul kelumpuhan pada
tubuhnya...Masa kritisnya sudah berlalu...Tapi...”
“Tapi apa
dok?”
“Nona
Sine mengalami koma...Kita hanya bisa menunggu...Perkembangan virus yang tumbuh
pesat sudah memasuki tahap akut...Maafkan kami yang tidak bisa berusaha dengan
baik tuan Kim...”
“Aku mengerti
dok...” Appa berharap bisa memelukmu nak...
Dokter memindahkannya ke ruang perawatan...Semua alat
yang terpasang ditubuhnya membuatku sesak.
Nak...Katakan pada appa jika kau merasa kesakitan
dengan semua alat ini...
Ibumu sudah datang Nak...Kami berdua ada disini
untukmu. Min Ah terus menangis melihat kondisi Sinetha...Ini menambah
kesesakanku...
“Dok...Berikan
saja dia yang terbaik...Aku tidak ingin melihatnya kesakitan dengan semua alat
itu....”
“Yoebbo...apa
maksudmu? Kau ingin dokter melepas semua alatnya?”
“Aku tidak
tahan!!! Apa kau mau melihat dia kesakitan? Jika memang tuhan ingin mengambil
dia, kenapa diulur-ulur?”
“KELUAR
KAU!!! Dari dulu kau selalu bersikap kejam pada semua orang!!!!”
Ingin rasanya memeluk istri dan anakku...Andai saja
bisa...Aku ingin berbariong diranjang itu menggantikannya...
[MIN
AH POV]
Suamiku gila!!!!!
Nak....
Oemma mohon...Bertahanlah...Kau harus sembuh...Euthanasia
tidak akan pernah oemma setujui...Tidak akan....Tidak peduli semarah apapun
ayahmu padaku nanti...Tapi tidak aku ingin kau tetap hidup...
*************************************************************
Aku mendengar pertengkaran mereka...Aku mendengar
semua yang mereka katakan...
Appa...lakukan saja euthanasia padaku...
Oemma...jangan bersedih...
Tuhan jika memang seperti ini jalanku...aku rela...Seminggu
bersama oarnag-orang yang aku cintai sudah cukup sebagai kenangan manisku...Terima
kasih untukmu, Tuhan...
Aku
melihat seorang malaikat yang mengulurkan tangannya padaku...
Sekarang aku yakin...Ini saatnya pergi...Selamat tinggal
Appa. Selamat tinggal Oemma... Selamat tinggal Hae Oppa...Selamat tinggal semua...
*************************************************************
[SUPER
JUNIOR DORMITORY]
[HAE
POV]
“Kyu...Kau
benar...Aku memang sedang bersedih sekarang”ucapku pada Kyuhyun
“Kenapa
hyung?”
“Berjanjilah
kau akan menjaga semua ini?”
“Aku berjanji
hyung...”
“Namanya
Sinetha Kim”
“Sinetha
Kim? Putri tunggal Kim songsaenim yang meninggal kemarin?”
“Ya...Aku
mengenalnya jauh sebelum dia berangkat ke amerika. Dan aku juga mencintai dia
sejak pertama kali mengenalnya”
“Hyung...”
“Ya...Aku
tahu sekarang dia sudah pergi... Seandainya aku masih sempat mengatakan
perasaan ini...Akan aku lakukan...”
“Kenapa hyung
tidak pernah mengatakannya?”
“Kau ingat
Kyu...Beberapa hari terakhir ini aku selalu membawa kue untuk Siwon?”
“Jadi...Sinetha?”
“Ya...Dia
mencintai Siwon...Aku tidak ingin dia jauh dariku ketika dia tahu perasaanku”
BRAAAK!!!!
“Hyung?
Jadi?”
“Siwon?”
“Seandainya
aku tahu dia orangnya, seandainya aku tahu dia yang hyung cintai...aku pasti
akan berbuat sesuatu untuk kalian”
Selesai berkata dia menyeretku ke tampat parkir...Mendorongku
masuk ke mobilnya. Orang-orang di dorm langsung mengejar kami takut siwon
berbuat sesuatu yang aneh padaku...
Tapi...
Dia...
Justru...
Membawaku kemakam Sinetha yang masih basah...
“Katakan
hyung! Katakan kau mencintainya!”
Kutatap dirinya tak percaya...Namun dia mengangguk
“Sine ya...Mungkin
ini terlambat...Aku berharap kau mendengarku dari surga...Aku mencintaimu...Aku
mencintaimu sejak pertama kali. Ketika aku ingin mengatakan ini kepadamu, kau
terlanjur berangkat ke amerika. Dan ketika bertemu kembali, aku ingin
mengatakannya, tapi kau terlebih dahulu mengatakan bahwa kau mencintai
dongsaengku. Dan sekarang, aku hanya bisa mengatakan aku mencintaimu di depan
makammu, bukan didepanku...Aku mencintaimu...”
Angin berhembus pelan menerpa wajahku. Kutatap nisan
yang mengukir namanya.
“Oppa...Sebenarnya aku mencintaimu...”
Kudengar samar suara itu. Kurasakan ada seseorang
yang memelukku dari belakang
“Sinetha...”
“Ya...Ini aku...Aku mencintaimu...”
“Aku juga lebih mencintaimu...”
“Hiduplah dengan bahagia...Mesti aku
meninggalkanmu...Tapi aku akan hadir disetiap nadimu...”
“Tidurlah dengan tenang...Berjanjilah menungguku
disana...”
“Aku berjanji oppa...Aku mencintaimu...”
“Aku mencintaimu...”
THE END
@@@@@@@@@@@@@@










0 komentar:
Posting Komentar