Bolehkah hari ini aku sedikit mengeluh? Ah aku sendiri tidak
yakin bahwa ini keluhan. Mungkin lebih tepatnya kesal. Sekian lama aku dan
kawan-kawan berteman. Pada fase inilah semua topeng yang menututi wajahku atau
wajah mereka terlihat. Hal yang paling aku tidak sukai adalah memakai topeng. Kenapa
kita harus bertopeng? Jika hanya dengan
topeng kita mendapatkan teman, maka teman yang ada akan pergi ketika topeng itu
perlahan terkikis tanpa kita sadari.
Aku tidak mengalami apa yang mereka rasakan. Maksudku, aku
tidak secara langsung menjadi korban
topeng orang lain. Namanya Marta. Sejak entah semester berapa, aku sering
melihatnya sendirian. Menurutku, Marta memang menyebalkan. Bagiku dia orang
yang menyebalkan, individualis, egois, dan tidak peka terhadap lingkungan. Yah,
meski aku sendiri mungkin seperti itu, tapi bagiku kekita kita terlalu egois
dan individualis maka hidup ini tidak akan berwarna.
Kalian boleh menyebut ini semacam kumpulan kekesalan atau
mungkin bisa kalian sebut kebencian. Meski menurutku kebencian bukan deskripsi
yang tepat. Di semester awal, Marta sering bermain dengan kami. Belajar bersama
kami. Harus aku akui dia memang pintar. Tapi makin kebelakang semuanya tidak
seindah dulu. Marta mulai menjadi bossy dan seenaknya sendiri. Menjadi sok
paling pintar. Dan satu persatu yang dulu pernah dekat dengannya lama-lama
menjauh.
Bukan karena kami tidak pernah menegurnya, mengajaknya
berbicara dari hati ke hati, dan memberikan penjelasan dampak atas sikapnya. Karena
kami sudah lelah dan menyerah berusaha. Ketika kami berusaha, ya dia akan
berubah, namun mungkin satu atau dua hari kemudian akan kembali seperti dulu. Dan
beginilah sekarang, menyerah untuk batas waktu yang tidak ditentukan.
Tidak banyak orang diantara kami yang lantang mengatakan
kekesalan kepadanya seperti aku. Aku salah satu orang yang berkata lugas dan
pedas kepadanya. Well, aku tidak akan begitu jika kata-kata halus atau sindiran
masih berguna.
Pada puncaknya adalah saat ini. Ketika kelompok kerja Marta
sepakat untuk menunggu Aida mengikuti salah satu tes persyaratan untuk wisuda. Aku
memang tidak satu kelompok dengan Marta. Tapi rasanya menyakitkan ketika kita
sudah sepakat dan mengiyakan semuanya, kemudian kita sendiri yang mengingkari. Bagaimana
dengan yang lain?
Perjalanan kelompok kerja masih berjalan 1 bulan, itu
artinya mereka akan terus bersama selama 12 bulan kemudian. Menurutku kenyamanan
kerja itu akan hilang. Dan aku mulai melihat tanda-tanda itu dikelompok mereka.
Hari ini, 17 juli 2014, aku bertanya kepada Marta kenapa dia
mendahului teman-teman kelompoknya.
Dia bilang karena orang tuanya yang menyuruh
Dia bilang orang tuanya berkata jika ada kesempatan maka
segerakan
Dia bilang kompak boleh tapi lihat situasi
Dan bla bla bla yang lain yang sudah tidak begitu aku
dengarkan.
Aku jahat ya? Memang...
Dan pada kalimat terakhirnya yang sangat menusuk hatiku
sampai malam hari ini
“ toh, yang bayar biayanya kan aku”
SHIT!
Apa itu arti kebersamaan baginya?
Mereka sudah berbagi suka duka selama ini.
Mereka meluangkan waktu untuk mengkhawatirkan Marta jika
pulang larut.
Apa hanya sedangkal itu pikirannya?
Apa dia tidak bisa membayangkan bagaimana bahagianya
merayakan kelulusan bersama?
Apa dia tidak bisa megerti bahwa yang lain mungkin juga
ingin segera merayakannya namun karena kasih sayang satu sama lain mereka
memutuskan untuk jalan bersama-sama?
Bagi kalian mungkin ini berlebihan. Tapi bagiku ini tidak
begitu. Bagi kalian yang mengalami kekesalan menahun akan mengerti.
Salah satu Ciri-ciri orang munafik : “Jika berjanji dia
mengingkari”
Semoga Kawanmu yang lain diberi kesabaran dan kekuatan
menghadapi sikapmu.....
Malang, 17 Juli 2014
Sinetha Mongli









0 komentar:
Posting Komentar